Langkah Kecil untuk Atasi Masalah Sampah Perkotaan yang Membesar

Salah satu penyebab utama banjir yang sering kali luput dari perhatian adalah sampah

Di tengah musim hujan yang tak kunjung reda, banjir kembali melanda berbagai wilayah di Indonesia. Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, kini berubah menjadi bencana yang merendam rumah-rumah, merusak jalan, dan mengancam kesehatan masyarakat. Salah satu penyebab utama banjir yang sering kali luput dari perhatian adalah sampah. Tumpukan sampah yang menyumbat saluran air dan sungai menjadi pemicu banjir yang tak terhindarkan. Plastik-plastik yang mengambang di permukaan air tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memperparah aliran air, membuat banjir semakin sulit dikendalikan.

Tangkapan layar seminar

Sampah yang tidak terkelola dengan baik kini makin menjadi pemandangan yang biasa. Sungai dan laut yang seharusnya jernih, kini dipenuhi sampah rumah tangga dan limbah plastik. Ketika hujan datang, sampah-sampah ini terbawa arus, menyumbat saluran air, dan akhirnya menyebabkan banjir yang merendam pemukiman warga. Bau menyengat dari tumpukan sampah basah menambah penderitaan masyarakat yang sudah harus berjuang melawan air yang menggenang.

Masalah sampah bukan lagi sekadar persoalan kebersihan, melainkan telah menjadi krisis lingkungan yang membutuhkan solusi segera. Jika tidak ditangani dengan serius, banjir akibat sampah akan terus berulang, mengancam kehidupan dan kesejahteraan masyarakat di seluruh Indonesia

Dalam webinar bertajuk "Promoting Behaviour Change for Supporting Municipal Waste Management in ASEAN" yang diselenggarakan pada 14 Maret 2025, para ahli dan praktisi dari berbagai negara ASEAN dan Denmark berkumpul untuk membahas strategi mengubah perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah. Acara ini tidak hanya menyoroti tantangan yang dihadapi, tetapi juga menawarkan solusi inovatif yang bisa diadopsi oleh berbagai negara.

Sampah: Masalah yang Tak Pernah Berakhir

Di Indonesia, masalah sampah sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Setiap hari, jutaan ton sampah dihasilkan, namun hanya sebagian kecil yang berhasil dikelola dengan baik. Sampah plastik, yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, menjadi momok utama. Sungai-sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, kini berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Di perkotaan, tempat pembuangan akhir (TPA) sudah kelebihan kapasitas, sementara kesadaran masyarakat untuk memilah sampah masih sangat rendah.

Arisman, Direktur Eksekutif Pusat Studi Asia Tenggara (CSEAS), memaparkan proyek percontohan di Desa Kendalpayak, Malang, yang berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memilah sampah. "Kunci keberhasilan proyek ini adalah dukungan dari pemerintah lokal dan masyarakat. Tanpa kolaborasi, upaya perubahan perilaku akan sulit tercapai," ujarnya. Proyek ini menunjukkan bahwa dengan edukasi dan insentif yang tepat, masyarakat bisa diajak untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah.

Belajar dari Denmark: Normalisasi Pemilahan Sampah

Sementara itu, Denmark, negara yang dikenal dengan sistem pengelolaan sampahnya yang canggih, berbagi pengalaman tentang bagaimana mereka berhasil mengubah perilaku masyarakat. Leah Kakar, seorang antropolog dari perusahaan pengelolaan sampah di Denmark, menjelaskan bahwa kunci keberhasilan mereka adalah normalisasi pemilahan sampah. "Kami tidak lagi mengatakan 'terima kasih telah memilah sampah', karena itu seharusnya sudah menjadi tanggung jawab setiap orang," ujarnya. Di Denmark, pemilahan sampah telah menjadi norma sosial yang diterima secara luas, didukung oleh infrastruktur yang memadai dan sistem yang mudah diakses.

Anak Muda: Agen Perubahan

Di Filipina, Leia Diola dari Universitas Filipina memaparkan proyek mereka untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di kampus. "Kami melibatkan mahasiswa dan penjual makanan di kampus untuk beralih ke kemasan ramah lingkungan. Meski biayanya lebih mahal, kami percaya bahwa perubahan kecil ini bisa membawa dampak besar," katanya. Proyek ini tidak hanya mengurangi sampah plastik, tetapi juga meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.

Masa Depan Pengelolaan Sampah: Kolaborasi dan Komitmen

Webinar ini menegaskan bahwa solusi untuk masalah sampah tidak bisa datang dari satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh Pararawasee dari Universitas Chulalongkorn, Thailand, "Kami tidak hanya fokus pada pengurangan sampah, tetapi juga menciptakan budaya baru di kampus kami. Dengan melibatkan semua pihak, kami berhasil mengurangi sampah plastik hingga 90%."

Masalah sampah adalah masalah kita bersama. Dengan perubahan perilaku dan komitmen yang kuat, kita bisa menciptakan masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Langkah kecil hari ini bisa menjadi perubahan besar untuk bumi kita esok.

Melipirnews/Latifah

Komentar

Popular Posts

Surabaya Bergerak: Suara Perempuan dan Kelompok Rentan Bergema di Peringatan Hari Perempuan Internasional

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Kepemimpinan Algoritma: Siapkan Pemimpin Jawa Timur Hadapi Era Digital

Sekolah Rakyat Diperuntukkan Bagi Kaum Miskin

Komunikasi Empatik: Kunci Pemimpin Membangun Kepercayaan dan Hubungan yang Kuat

Survai: Hak Publik Dapatkan Berita Akurat Terancam Jika Intimidasi Jurnalis Terus Terjadi

MTI: Setelah 10 tahun Bridging, Seharusnya Ojol Hanya untuk Pengantaran Barang

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Drama Pertentangan Duterte dengan International Criminal Court (ICC)

Advertisements

ARTIKEL FAVORIT PEMBACA

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

Kontes Debat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)

Bertaruh Cuan di Tengah Kemacetan Jalan Raya Sawangan

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

Kasih Bunda Tak Terkira; Ber-Solo Touring Demi Tengok Anaknya

Rangkaian Harmusindo 2024: Dorong Museum Sebagai Destinasi Wisata dan Edukasi

Advertisement

Buku Baru: Panduan Praktis Penelitian Sosial-Humaniora

Berpeluh Berselaras; Buddhis-Muslim Meniti Harmoni

Verity or Illusion?: Interfaith Dialogue Between Christian and Muslim in the Philippines

IKLAN ANDA

IKLAN ANDA

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.